Kisah Haru Seniman Legendaris Banjar, Engkus Tumaritis, Berjuang Bangkit dari Lembaran Stroke
Banjar- Dunia seni Kota Banjar, Jawa Barat, berduka. Sosok legenda yang di era 90-an kerap menghidupkan panggung dengan irama calung dan senyum khasnya, Kusnadi atau yang akrab disapa Engkus Tumaritis (60), kini harus berjuang di atas pembaringannya. Pria yang dulu enerjik dan penuh spirit itu kini terbaring lemah setelah penyakit stroke menghampiri tiga bulan silam.

Baca Juga : Peresmian Gedung Baru RSBP Diwarnai Operasi Bibir Sumbing Gratis Dan Donor Darah
Aktifitasnya kini hanya sebatas di dalam rumah sederhananya di Lingkungan Sumanding Wetan, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Banjar. Dari panggung gemilang ke ranjang sakit, perjalanan hidup Engkus menyentuh banyak hati. Bukan hanya keluarga, tapi juga rekan-rekan sesama seniman dan tokoh masyarakat yang turut merasakan keprihatinan mendalam.
Namun, di balik awan kelabu, masih ada cahaya harap. Kepedulian itu akhirnya sampai juga pada telinga pihak Rumah Sakit Banjar Patroman (RSBP). Lewat program layanan antar jemput, Engkus akhirnya dibawa ke RSBP untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih intensif.
Kepedulian RSBP dan Atensi Khusus bagi Seniman Senior
Manajer Umum dan SDM RSBP Kota Banjar, Asep Halim, mengungkapkan bahwa kabar tentang sakitnya Engkus sampai kepadanya. Rasa hormatnya pada dedikasi Engkus di dunia seni mendorongnya untuk turun langsung.
“Setelah saya kunjungi dan berbincang dengan keluarga, Alhamdulillah respons mereka sangat positif. Akhirnya kami koordinasikan dengan tim dokter untuk menjemput dan membawa beliau ke RSBP melalui program Banjar Patroman Layanan Antar Jemput,” jelas Asep Halim.
Menurut Asep, kepesertaan BPJS Kesehatan yang dimiliki Engkus sangat memudahkan proses pelayanan. “Semua pelayanan bisa ditanggung, tidak ada biaya. Ini bentuk atensi khusus kami. Kami mengenal Kang Engkus bukan hanya sebagai pasien, tetapi sebagai seniman senior yang telah banyak berjasa dan menunjukkan totalitas pada seni budaya Kota Banjar,” tegasnya.
Perjalanan Tiga Bulan Melawan Stroke
Sementara itu, Heni, sang istri, dengan pilu menceritakan perjalanan suaminya melawan stroke. Awalnya, Engkus masih tampak sehat dan bisa beraktivitas seperti biasa. Namun, tiga bulan terakhir, kondisi tubuhnya mulai menurun drastis.
“Sempat kami bawa ke RSUD untuk perawatan sebelumnya. Alhamdulillah, ada perkembangan. Dia sudah mulai bisa mengobrol, meski masih terbata-bata. Geraknya juga sudah lebih baik daripada sebelumnya,” ujar Heni dengan penuh harap.
Mendapat tawaran bantuan pengobatan lanjutan dari RSBP, keluarga pun menyambutnya dengan tangan terbuka. “Kami berharap, dengan penanganan lebih lanjut di RSBP, kondisi suami bisa semakin membaik. Semangatnya masih ada, dan kami percaya dia bisa melalui ini,” tambah Heni.
Sebuah Harapan di Tengah Ujian
Kisah Legenda Engkus Tumaritis ini bukan sekadar cerita tentang seorang seniman yang sakit. Ini adalah potret nyata solidaritas masyarakat Banjar yang masih menghargai jasa-jasa para pelestari budayanya. Perjuangannya melawan stroke adalah pengingat akan betapa rapuhnya manusia, namun juga betapa kuatnya tekad dan dukungan sosial dapat menjadi penyangga di saat-saat terberat.
Semoga dengan penanganan medis yang tepat dan doa dari semua pihak yang mencintainya, senyum Engkus Tumaritis dapat kembali menghiasi dunia seni Banjar. Perjuangan sang maestro calung ini adalah warisan lain tentang ketangguhan, yang tak kalah berharganya dari setiap lagu dan irama yang pernah ia mainkan di atas panggung.

![40c8f394-692f-4988-8efb-4eedf0a0a3af[1]](https://www.minuto5.com/wp-content/uploads/2025/12/40c8f394-692f-4988-8efb-4eedf0a0a3af1-148x111.jpeg)
![WhatsAppImage2024-12-18at8.37.36PM_11zon[1]](https://www.minuto5.com/wp-content/uploads/2025/12/WhatsApp20Image202024-12-1820at208.37.3620PM_11zon1-148x111.jpeg)


