, ,

Kronologi Serangan Buaya di Pulau Ubi Batakan Tanah Laut, Korban Sedang Mencari Ikan

oleh -1295 Dilihat
oleh

MAJALAH BANJARKronologi Serangan Buaya Sebuah peristiwa tragis terjadi di Pulau Ubi Batakan, sebuah pulau kecil yang terletak di wilayah Tanah Laut, Kalimantan Selatan, pada Selasa, 12 Desember 2025. Seorang warga yang sedang mencari ikan di pesisir pantai menjadi korban serangan buaya. Peristiwa ini menambah panjang daftar serangan buaya di kawasan tersebut, yang kerap terjadi di wilayah pesisir yang kaya akan kehidupan alam liar.

Kronologi Kejadian mengungkapkan bahwa pada pagi hari tersebut, korban yang diketahui bernama Musa, seorang pria berusia 42 tahun, pergi seorang diri ke tepi pantai untuk mencari ikan menggunakan alat tangkap sederhana. Tidak ada yang menyangka bahwa pencarian ikan yang dilakukan dengan tenang tersebut akan berakhir dengan tragedi yang mengerikan.

Serangan Buaya di Pesisir Pulau Ubi Batakan

Kronologi Serangan Buaya
Kronologi Serangan Buaya

baca juga; Sirine Peringatan Banjir di Sungai Lulut Terdengar Keras, BNPB dan BPBD Banjarmasin

Pada sekitar pukul 08:00 WIB, Musa yang sedang berdiri di pinggir pantai sambil merendam jala untuk mencari ikan, tiba-tiba diserang oleh buaya muara yang muncul dari dalam air. Menurut keterangan saksi mata yang berada di sekitar lokasi kejadian, buaya tersebut langsung menerkam tubuh korban dengan cepat. Kejadian tersebut sangat mengejutkan karena serangan buaya terjadi begitu mendalam dan sulit untuk dihindari.

“Awalnya kami hanya melihat korban sedang berdiri di pinggir pantai. Tapi tiba-tiba buaya besar muncul dan langsung menyerang dari dalam air. Semua orang yang ada di lokasi terkejut dan hanya bisa berteriak meminta bantuan,” ujar Sari, seorang saksi mata yang saat itu berada di dekat lokasi.

Musa yang terkejut dengan serangan mendadak itu berusaha melawan, namun buaya tersebut menggigit bagian kaki kanan korban dengan sangat kuat. Karena serangan yang begitu cepat dan ganas, korban tidak bisa melawan dan terdrag ke dalam air.

Kronologi Serangan Buaya Upaya Penyelamatan yang Terhambat

Mendengar teriakan minta tolong dari Musa, beberapa warga yang ada di sekitar pantai langsung berlari untuk memberikan pertolongan. Mereka berusaha untuk menanggulangi serangan buaya tersebut dengan segala cara, termasuk menggunakan pancing dan tali untuk mencoba menarik korban kembali ke pantai. Namun, upaya ini sangat sulit karena buaya tersebut terus menggigit kaki korban dan menariknya lebih dalam ke laut.

“Seorang warga sempat mencoba menggunakan tali untuk menarik korban, tapi buaya itu semakin menarik tubuh korban. Akhirnya, kami harus berhati-hati karena buaya tersebut juga sangat besar dan bisa membahayakan keselamatan kami,” tambah Andi, salah satu warga yang mencoba memberikan pertolongan.

Sayangnya, karena kedalaman air dan kerisauan akan keselamatan warga yang berusaha membantu, mereka akhirnya tidak mampu menyelamatkan Musa. Serangan tersebut berlanjut hingga beberapa menit sebelum akhirnya buaya itu menyeret tubuh korban jauh ke dalam air. Warga kemudian melaporkan kejadian tersebut ke pihak berwenang untuk melakukan pencarian.

Pencarian Korban oleh Tim SAR

Setelah mendapat laporan mengenai serangan buaya tersebut, Tim SAR Tanah Laut segera diterjunkan ke lokasi kejadian untuk melakukan pencarian terhadap korban. Pencarian berlangsung selama lebih dari 12 jam, dengan menggunakan perahu dan peralatan penyelamatan untuk mencari tubuh Musa. Tim SAR juga dibantu oleh petugas dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) yang telah berpengalaman dalam penanganan hewan liar, terutama buaya.

“Tim kami langsung bergerak cepat setelah mendapat informasi. pencarian selesai.

Namun, karena kedalaman perairan dan adanya kemungkinan buaya tersebut telah menyeret tubuh korban ke wilayah yang lebih dalam, pencarian pun sempat menemui kesulitan. Meskipun begitu, Tim SAR terus berusaha mencari hingga akhirnya mereka menemukan tubuh korban pada malam hari, sekitar pukul 21:00 WIB, dalam keadaan sudah tidak bernyawa.

Penyebab Serangan Buaya di Pulau Ubi Batakan

Serangan buaya ini menambah kekhawatiran mengenai keberadaan dan perilaku buaya di kawasan pesisir Pulau Ubi Batakan. Pulau ini, seperti banyak kawasan pesisir di Kalimantan Selatan, memang terkenal sebagai habitat buaya muara yang sering kali terlihat berdekatan dengan permukiman warga.

 “Buaya muara cenderung menyerang manusia jika mereka merasa terganggu atau jika mereka tidak mampu menemukan makanan lain. Serangan seperti ini bukan hal yang jarang terjadi di kawasan pesisir seperti Tanah Laut,” kata Ahmad.

Kronologi Serangan Buaya Reaksi Pemerintah dan Langkah Pencegahan

Pemerintah Kabupaten Tanah Laut bersama dengan BKSDA Kalimantan Selatan segera mengambil langkah-langkah untuk menangani masalah ini secara lebih serius.

Bupati Tanah Laut, H. Zairullah Azhar, dalam pernyataannya menyampaikan rasa belasungkawa yang mendalam atas kejadian ini.

Kesimpulan: Perlu Waspada dan Penanganan yang Tepat

. Meskipun buaya adalah bagian dari ekosistem alam, interaksi antara manusia dan hewan buaya yang tidak sengaja bisa berbahaya.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.