, ,

Dinkes Banjar Proaktif Kawal Kualitas Air Minum Di Depot Isi Ulang

oleh -1599 Dilihat

Dinkes Kota Banjar Tingkatkan Pengawasan, Periksa Ketat 157 Depo Air Minum Isi Ulang

Banjar- Menjaga kualitas air minum yang dikonsumsi masyarakat adalah hal yang non-negotiable. Berkomitmen penuh pada kesehatan publik, Dinas Kesehatan Dinkes Kota Banjar, Jawa Barat, secara proaktif dan rutin melakukan pemeriksaan kualitas terhadap seluruh Depot Air Minum Isi Ulang (DAMIU) yang beroperasi di wilayahnya. Langkah ini merupakan bentuk perlindungan dini untuk memastikan setiap tetes air yang sampai ke tangan warga benar-benar aman, higienis, dan layak konsumsi.

Dinkes Banjar Proaktif Kawal Kualitas Air Minum Di Depot Isi Ulang
Dinkes Banjar Proaktif Kawal Kualitas Air Minum Di Depot Isi Ulang

Baca Juga : Brutal Di Martapura, Heri Tewas Ditusuk Mantan Sesama Narapidana Usai Dendam Penjara

Pantau 157 Depot, 132 Sudah Diperiksa

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinkes Kota Banjar, Endang Hamdan, dalam rilis resminya mengonfirmasi bahwa pihaknya terus memantau aktivitas para pelaku usaha. “Kami memiliki data 157 unit usaha DAMIU yang aktif. Hingga saat ini, kami telah menyelesaikan pemeriksaan laboratorium untuk 132 depot. Sedangkan 25 depot sisanya akan segera kami jadwalkan pemeriksaan,” ujar Endang.

Ia menegaskan bahwa pemeriksaan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah keharusan untuk mencegah potensi penularan penyakit melalui air yang terkontaminasi.

Parameter Kunci: Dari Tingkat Keasaman hingga Bakteri Mematikan

Pemeriksaan yang dilakukan oleh petugas lapangan dan tenaga laboratorium sangat ketat, berfokus pada tiga parameter kunci yang menjadi indikator utama kualitas air:

  1. Tingkat Keasaman (pH): Air minum yang ideal harus memiliki pH netral. “Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 492 Tahun 2010 tentang Persyaratan Kualitas Air Minum, pH air yang aman dikonsumsi harus berada dalam rentang 6,5 hingga 8,5. Air dengan pH terlalu asam atau terlalu basa dapat berdampak buruk bagi kesehatan dalam jangka panjang,” papar Endang.

  2. Bakteri Coliform dan E-Coli: Ini adalah parameter paling kritis. Kedua bakteri ini merupakan indikator pencemaran tinja. Standar yang ditetapkan sangatlah ketat, yaitu 0 koloni per 100 mililiter air. “Angka nol ini mutlak. Adanya Coliform, apalagi E-Coli, dalam air minum menandakan kontaminasi kotoran yang dapat menyebabkan penyakit seperti diare, tifus, dan kolera,” tegasnya.

Hasil Menggembirakan dan Komitmen Berkelanjutan

Kabar baiknya, dari 132 depot yang telah diperiksa, hasilnya cukup menggembirakan. “Alhamdulillah, berdasarkan hasil uji laboratorium yang kami terima, belum ditemukan masalah signifikan. Mayoritas usaha telah memenuhi syarat kesehatan,” jelas Endang. Hasil ini menunjukkan adanya peningkatan kesadaran para pelaku usaha akan pentingnya menjaga standar kebersihan dan kualitas.

Namun, kewaspadaan tidak boleh kendur. Endang menekankan bahwa program ini bersifat berkelanjutan dan terjadwal. “Pemeriksaan laboratorium ini kami lakukan secara rutin setiap 3 bulan sekali. Proses pengambilan sampel air dilakukan oleh petugas Puskesmas di masing-masing wilayah, memastikan cakupan yang merata dan obyektif,” tambahnya.

Dengan langkah pre-emptif dan berkelanjutan ini, Dinkes Kota Banjar berharap dapat membangun tembok kokoh yang melindungi masyarakat dari risiko kesehatan akibat air minum yang tidak memenuhi syarat. Masyarakat juga diimbau untuk selalu cermat dan membeli air isi ulang hanya di depot yang telah memiliki izin dan menunjukkan laporan hasil uji kualitas terbaru.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.