, ,

Jembatan Penghubung 60 Meter Di Desa Sungai Musang Runtuh, Warga Hadapi Kesulitan

oleh -1400 Dilihat

Jembatan Penghubung Hidup Warga Aluhaluh Runtuh Diterjang Eceng Gondok, Aktivitas Warga Tergantung pada Kelotok

Banjar-  Suasana muram dan rasa was-was menyelimuti tepian sungai di Desa Sungai Musang, Kecamatan Aluhaluh. Hanya tumpukan puing kayu yang tersangkut di aliran sungai menjadi saksi bisu dari sebuah jembatan sepanjang 60 meter yang sebelumnya menjadi urat nadi penghubung bagi dua komunitas. Sekarang, yang tersisa hanyalah kesulitan.

Jembatan Penghubung 60 Meter Di Desa Sungai Musang Runtuh, Warga Hadapi Kesulitan
Jembatan Penghubung 60 Meter Di Desa Sungai Musang Runtuh, Warga Hadapi Kesulitan

Baca Juga : Legenda Calung Era 90-an, Engkus Tumaritis, Berjuang Melawan Stroke

Jembatan kayu yang menjadi penghubung vital antara Desa Sungai Musang (Kecamatan Aluhaluh) dan Desa Pindahan Baru (Kecamatan Beruntung Baru) itu telah roboh, terseret oleh gerombolan eceng gondok (ilung) yang ganas. Peristiwa yang terjadi pada Minggu pagi pukul 06.00 Wita itu dalam sekejap mengubah mobilitas sehari-hari ratusan warga.

Kini, geliat kehidupan warga yang hendak menyeberang bergantung pada jukung (perahu tradisional) dan kelotok. Di tepi sungai, terlihat antrean panjang mulai dari anak-anak seragam sekolah, para santri yang hendak mengaji, hingga ibu-ibu yang ingin berbelanja ke pasar. Ritme kehidupan yang biasa lancar, kini terpaksa mengikuti irama kedatangan dan kepergian perahu.

“Ini jadi ujian kesabaran bagi kami semua. Biasanya, anak-anak saya tinggal jalan kaki dengan tenang melewati jembatan. Sekarang, mereka harus menunggu perahu, dan itu belum jaminan. Saat air pasang tinggi, perahu sulit merapat ke dermaga, akibatnya banyak anak yang terlambat sampai ke sekolah,” keluh Gafuri, salah seorang warga Desa Sungai Musang, dengan suara yang penuh kekhawatiran.

Ketiadaan jembatan ini memaksa warga membuat pilihan sulit. Sebagian memilih untuk tidak keluar rumah kecuali untuk urusan yang sangat mendesak. Sementara, yang lain nekat menyeberang dengan perahu-perahu kecil yang kondisinya seadanya, mempertaruhkan keselamatan demi memenuhi kebutuhan hidup.

“Akses ini bukan sekadar jalan alternatif; ini adalah satu-satunya jalan utama kami. Tanpa jembatan, kami seperti terputus dari dunia. Kami hanya punya satu harapan: jembatan ini segera dibangun kembali,” tambah Gafuri, menggambarkan betapa vitalnya infrastruktur tersebut.

Air Pasang dan ‘Serbuan’ Eceng Gondok Jadi Pemicu

Menurut Kepala Desa Sungai Musang, Masrani, bencana ini tidak terjadi begitu saja. Malam sebelum jembatan roboh, air laut mengalami pasang yang cukup tinggi. Arus pasang inilah yang membawa serta ribuan eceng gondok dari hulu.

“Tumpukan eceng gondok yang sangat padat itu kemudian membentur dan membebani jembatan kayu. Tekanan dari air dan sampah tanaman itu terlalu kuat untuk ditahan struktur jembatan, hingga akhirnya jembatan itu pun ambruk dan terseret arus,” jelas Masrani, merinci kronologi kejadian.

Kepala Desa Pindahan Baru Beruntung Baru, Saleh, mengonfirmasi dampak parah yang dirasakan warganya. Ia menegaskan bahwa jembatan tersebut adalah satu-satunya akses langsung menuju Desa Sungai Musang. Ia telah menyampaikan laporan resmi mengenai insiden ini kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Banjar.

“Kami sudah laporkan dan berharap responsnya cepat. Warga kami sangat bergantung pada jembatan ini. Jika tidak segera diperbaiki, mereka akan terus-terusan bergantung pada jukung untuk aktivitas sehari-hari, yang jelas memakan waktu, biaya, dan tidak selalu aman,” ucap Saleh.

Janji Perbaikan dari Pemerintah

Di tengah kegelisahan warga, secercah harapan datang dari pihak berwenang. Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Banjar, Jimmy, mengaku telah menerima laporan dan memahami urgensi permasalahan ini.

“Benar, kami telah mengetahui kejadian ini. Bahkan sebelumnya, kami sudah melakukan survei lokasi dan saat ini sedang dalam proses menyelesaikan perencanaan perbaikannya. Rencana teknis sedang kami finalkan, dan insya Allah, masalah ini akan segera kami tangani,” tegas Jimmy, memberikan penegasan bahwa jembatan tersebut telah masuk dalam agenda perbaikan.

Sementara janji perbaikan digaungkan, kehidupan di tepi sungai terus berjalan dengan irama yang terpaksa berubah. Setiap hari, para penyeberang dengan setia menunggu kedatangan perahu, memandang ke seberang dengan harapan suatu saat nanti, jembatan kayu itu akan kembali berdiri, mengembalikan denyut kehidupan yang sempat terputus.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.