, ,

Lansia 65 Tahun Terpaksa Dibawa Ke RSUD Pakai Pickup Gagal Ambulans

oleh -1218 Dilihat

Wali Kota Turun Tangan: Tinjau Ulang SOP Ambulans Usai Warga Lansia Terpaksa Dibawa Pakai Pickup ke RS

Majalah Banjar- Sebuah insiden yang memprihatinkan terjadi di Kota Banjar, Jawa Barat, ketika seorang warga lanjut usia lansia berusia 65 tahun, Dede, terpaksa dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) menggunakan mobil pickup lantaran kesulitan mendapatkan layanan ambulans dari Puskesmas setempat. Insiden ini langsung mendapat perhatian serius dari Wali Kota Banjar, H. Sudarsono, yang sigap mendatangi rumah sakit untuk memastikan keselamatan dan kelayakan perawatan bagi warga tersebut.

Lansia 65 Tahun Terpaksa Dibawa Ke RSUD Pakai Pickup Gagal Ambulans
Lansia 65 Tahun Terpaksa Dibawa Ke RSUD Pakai Pickup Gagal Ambulans

Baca Juga : Kades Neglasari Akhirnya Buka Suara Soal Penolakan Pinjam Ambulans Puskesmas

Kedatangan Wali Kota Sudarsono ke RSUD bukan sekadar kunjungan formal, melainkan bentuk tanggung jawab langsung terhadap pelayanan publik yang dinilai masih memiliki celah. Di ruang perawatan, Sudarsono menemui Dede yang kondisinya mulai membaik setelah mendapatkan penanganan medis.

“Alhamdulillah, kondisi pasien sudah menunjukkan perbaikan. Saat ini, tim medis fokus untuk menstabilkan tekanan darahnya yang masih terbilang cukup tinggi, yaitu 180/110. Penurunan tensi ini harus dilakukan secara bertahap, tidak boleh drastis,” jelas Sudarsono kepada awak media, Rabu. Ia menambahkan harapannya bahwa dalam waktu tiga hari ke depan, tekanan darah Dede sudah bisa kembali stabil dengan perawatan intensif.

SOP Dipertanyakan, Pelayanan Manusia Diutamakan

Merespons insiden ini, Wali Kota Sudarsono tidak segan menyoroti Standar Operasional Prosedur (SOP) ambulans yang dinilai kaku dan berbelit-belit. Ia menegaskan bahwa dalam situasi gawat darurat, prosedur harusnya tidak menjadi penghalang untuk memberikan pertolongan cepat.

“Saya telah menyampaikan dengan tegas kepada jajaran terkait. SOP ambulans harus memihak pada keselamatan warga. Sopir ambulans harus diberikan kewenangan dan instruksi untuk bergerak cepat menanggapi panggilan darurat dari masyarakat tanpa terhambat birokrasi yang tidak perlu,” tegas Sudarsono.

Lebih lanjut, Sudarsono menggarisbawahi bahwa masalahnya terletak pada sistem, bukan pada individu petugas. “Ini soal mengutamakan nyawa manusia. Saya minta SOP dilonggarkan dan disederhanakan untuk kondisi darurat. Petugas di lapangan harus didorong untuk mengambil inisiatif menyelamatkan jiwa. Lebih baik kita sekali-sekali ‘dibohongi’ oleh panggilan palsu, daripada satu nyawa warga kita tertolong karena kita telat merespons. Itu adalah risiko yang harus kita terima dalam pengabdian kepada masyarakat,” paparnya dengan penuh keyakinan.

Kronologi Kejadian: Usai Urus KTP, Lansia Ini Langsung Pingsan

Dari lokasi kejadian, Kepala Dusun Cilengkong, Ikbal Machdar Fauzi, memberikan keterangan mengenai kronologi insiden yang menimpa Dede. Menurutnya, Dede diketahui memiliki riwayat penyakit maag dan hipertensi.

“Saat kejadian, Bapak Dede baru saja selesai mengurus pembaruan data E-KTP dan Kartu Keluarga di Dispendukcapil. Berstatus sebagai lansia, beliau mendapat prioritas pelayanan sehingga prosesnya berlangsung cepat. Namun, tepat setelah urusan selesai dan hendak pulang, beliau tiba-tiba pingsan,” jelas Ikbal.

Ikbal menuturkan bahwa keluarga yang panik langsung berupaya mencari ambulans dari Puskesmas Banjar 2, namun gagal. Dalam situasi darurat itu, opsi terdekat dan tercepat adalah mengangkut Dede menggunakan mobil pickup menuju RSUD. “Kondisi pingsan separah ini baru pertama kali dialaminya,” tambah Ikbal.

Komitmen Perbaikan untuk Pelayanan Publik yang Lebih Humanis

Insiden ini menjadi pengingat keras bagi pemerintah kota tentang pentingnya efisiensi dan empati dalam pelayanan darurat. Wali Kota Sudarsono berkomitmen untuk mengevaluasi dan merevisi SOP pelayanan ambulans di seluruh puskesmas agar lebih responsif. Harapannya, kejadian memilukan dimana warga harus mengandalkan mobil pickup untuk mengantar anggota keluarganya yang sakit ke rumah sakit tidak terulang lagi di masa depan. Masyarakat Banjar diharapkan dapat mengakses pelayanan publik yang cepat, manusiawi, dan berorientasi pada keselamatan jiwa.

Skintific

No More Posts Available.

No more pages to load.